Blog · Terbit · Diperbarui
Biaya QRIS 2026: tarif MDR per kategori usaha sejak 1 Oktober, dan biaya penyedia di atasnya
Sejak 1 Oktober 2026, MDR QRIS untuk transaksi sampai Rp 100.000 adalah 0 persen di semua kategori merchant. Di atas Rp 100.000, usaha kecil, menengah, dan besar membayar 0,7 persen, sedangkan usaha mikro tetap 0 persen sampai Rp 500.000 lalu 0,3 persen. MDR ditanggung merchant dan tidak boleh dibebankan kepada pembeli.
Angka-angka itu dari halaman resmi Bank Indonesia tentang MDR QRIS, yang merujuk Siaran Pers Bank Indonesia No. 28/159/DKom tanggal 17 Agustus 2026, dan dari pemberitaan ANTARA pada hari yang sama. MDR baru sebagian dari biaya: penyedia QRIS atau payment gateway bisa mengenakan biaya sendiri di atasnya, dan biaya itulah yang sering menentukan berapa yang benar-benar diterima. Keduanya dibahas di bawah.
Tarif MDR QRIS per kategori merchant
| Kategori merchant | Sampai 30 September 2026 | Sejak 1 Oktober 2026 (berlaku sekarang) |
|---|---|---|
| Usaha mikro (UMi) | 0% sampai Rp 500.000, lalu 0,3% | Tidak berubah: 0% sampai Rp 500.000, lalu 0,3% |
| Usaha kecil, menengah, besar (UKE, UME, UBE) | 0,7% untuk semua nominal | 0% sampai Rp 100.000, lalu 0,7% |
| Pendidikan | 0,6% | 0% sampai Rp 100.000, lalu 0,6% |
| SPBU | 0,4% | 0% sampai Rp 100.000, lalu 0,4% |
| Layanan publik, BLU, PSO, G2P, P2G, donasi sosial nirlaba | 0% | 0% |
Kategori itu bukan pilihan sendiri. Penyedia yang mendaftarkan merchant yang menetapkannya saat pendaftaran, dan kategori itulah yang dipakai jaringan pembayaran untuk menghitung potongan. Kalau potongan yang terlihat di laporan tidak cocok dengan tabel di atas, pertanyaan pertama bukan “kenapa tarifnya salah” melainkan “akun ini terdaftar di kategori apa”.
Ambang Rp 100.000 membuat tarif efektif melompat
Tabel Bank Indonesia membagi tarif menurut nominal transaksi: transaksi di atas Rp 100.000 masuk baris 0,7 persen. Bagi merchant yang membayar MDR langsung ke bank pengakuisisi, itu berarti tarifnya dikenakan pada transaksi itu, bukan pada kelebihannya di atas Rp 100.000 saja, sehingga ada lompatan tepat di ambang. Rincian potongan di laporan bank tetap yang menentukan. Untuk merchant kategori usaha kecil:
| Nominal transaksi | MDR | Tarif efektif |
|---|---|---|
| Rp 99.000 | Rp 0 | 0% |
| Rp 100.000 | Rp 0 | 0% |
| Rp 105.000 | Rp 735 | 0,7% |
| Rp 250.000 | Rp 1.750 | 0,7% |
Konsekuensinya nyata untuk penetapan harga. Produk yang dibanderol Rp 105.000 menghasilkan Rp 104.265 setelah MDR, sedangkan yang dibanderol Rp 100.000 menghasilkan Rp 100.000 utuh. Selisih harga Rp 5.000 hanya menambah Rp 4.265 bersih. Itu bukan alasan untuk menurunkan harga, tetapi layak diketahui sebelum menaikkannya sedikit di atas ambang.
Memecah tagihan agar di bawah ambang: hitung dulu
Godaan yang muncul setelah membaca tabel di atas adalah memecah satu tagihan Rp 120.000 menjadi dua tagihan Rp 60.000. MDR yang dihemat memang Rp 840. Tetapi setiap penyedia tautan pembayaran mengenakan biaya tetap per transaksi, jadi pecahan kedua menambah satu biaya tetap lagi, dan penghematannya tinggal selisihnya. Pada biaya tetap Rp 250 per transaksi, sisa penghematannya Rp 590 per pesanan, dan itu pun hanya bila tarif penyedia mengikuti MDR. Di Kasera Pay, yang tarif QRIS-nya 0,7 persen ditambah Rp 250 di semua nominal, satu tagihan Rp 120.000 kena Rp 1.090, sedangkan dua tagihan Rp 60.000 kena Rp 1.340: memecah justru lebih mahal.
Harga sebenarnya ada di luar hitungan itu: satu pesanan berubah menjadi dua pembayaran yang bisa lunas separuh. Pembeli membayar tagihan pertama, lupa yang kedua, dan pesanan itu masuk ke antrean tindak lanjut manual yang justru dihindari dengan memakai konfirmasi otomatis. Untuk penghematan Rp 590, biayanya terlalu mahal.
MDR bukan satu-satunya potongan
MDR adalah potongan jaringan pembayaran. Penyedia tautan pembayaran atau payment gateway menambahkan biayanya sendiri di atas itu, dan bentuknya berbeda-beda: persen, biaya tetap per transaksi, atau gabungan keduanya. Ada pula biaya pencairan yang dihitung per pencairan, bukan per transaksi.
Tarif QRIS di halaman harga Kasera Pay adalah 0,7 persen ditambah Rp 250 per transaksi sampai Rp 1.000.000 (di atasnya 1 persen dari seluruh nominal), seluruhnya biaya Kasera Pay sendiri, tanpa biaya bulanan dan tanpa biaya pendaftaran. Biaya pencairan yang berlaku saat ini tercantum di halaman biaya. Ketentuan MDR 0 persen 1 Oktober berlaku pada jaringan pembayaran, bukan otomatis pada tarif penyedia: apakah dan kapan sebuah penyedia meneruskannya ke tarif merchant adalah keputusan penyedia itu. Tarif QRIS Kasera Pay tetap 0,7 persen ditambah Rp 250 sampai diumumkan lain, dan syarat layanan mewajibkan pemberitahuan 30 hari sebelum tarif berubah.
Berapa yang diterima: MDR langsung ke bank dibanding lewat penyedia
Kolom tengah adalah merchant kategori usaha kecil yang membayar MDR saja ke bank pengakuisisinya, tanpa biaya lain. Kolom kanan adalah tarif QRIS Kasera Pay, 0,7 persen (dibulatkan ke atas) ditambah Rp 250 di semua nominal sampai Rp 1.000.000, dan 1 persen dari seluruh nominal untuk pembayaran di atas Rp 1.000.000. Biaya pencairan Rp 3.000 per pencairan belum termasuk. Hitungan ini tidak mengandaikan penyedia meneruskan MDR 0 persen ke tarifnya: kolom kanan adalah tarif Kasera Pay yang berlaku sekarang.
| Nominal | MDR langsung (usaha kecil): potongan, diterima | Kasera Pay: potongan, diterima |
|---|---|---|
| Rp 50.000 | Rp 0, Rp 50.000 | Rp 600, Rp 49.400 |
| Rp 100.000 | Rp 0, Rp 100.000 | Rp 950, Rp 99.050 |
| Rp 250.000 | Rp 1.750, Rp 248.250 | Rp 2.000, Rp 248.000 |
| Rp 1.500.000 | Rp 10.500, Rp 1.489.500 | Rp 15.000, Rp 1.485.000 |
Selama bank tidak mengenakan biaya lain, QRIS dari bank sendiri lebih murah di semua baris tabel, dan untuk satu kode QRIS statis di meja kasir itu pilihan yang masuk akal. Yang dibayar lewat penyedia adalah hal lain: kode dinamis per pesanan dengan nominal terkunci, status lunas yang berubah sendiri tanpa cek mutasi, Virtual Account di tujuh bank, tautan pembayaran untuk penjual chat, dan API. Kalau hal-hal itu tidak dibutuhkan, MDR langsung ke bank adalah jalur termurah.
MDR ditanggung merchant, bukan pembeli
Halaman resmi Bank Indonesia menyatakan MDR ditanggung merchant dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen. Praktik menambahkan baris “biaya QRIS” pada tagihan pembeli bertentangan dengan ketentuan itu. Menetapkan harga jual yang sudah memperhitungkan biaya adalah hal yang berbeda: yang diatur adalah pembebanan MDR sebagai biaya terpisah kepada pembayar QRIS, bukan cara sebuah harga disusun.
Cara memeriksa potongan yang sebenarnya terjadi
Tarif yang berlaku pada satu transaksi hanya bisa dipastikan dari catatan transaksi itu sendiri, bukan dari tabel mana pun. Yang perlu dicari ada tiga angka: nominal bruto, potongan, dan yang diterima, dengan bruto sama dengan potongan ditambah yang diterima. Kalau ketiganya tidak dilaporkan per transaksi, rekonsiliasi bulanan akan selalu berupa tebakan.
Di Kasera Pay ketiganya ada pada objek pembayaran sebagai amount, fee, dan net, dikembalikan pada respons POST /v1/transactions dan terbaca juga di dashboard. Bentuk lengkapnya ada di dokumentasi create payment request. Untuk tarif per metode yang berlaku pada satu akun, GET /v1/payment_methods mengembalikan komponen persen dan komponen tetapnya, sehingga tarif tidak perlu ditulis permanen di kode sendiri. Rinciannya ada di dokumentasi metode pembayaran.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah QRIS statis dan QRIS dinamis kena MDR berbeda?
Tidak. MDR ditentukan kategori merchant dan nominal transaksi, bukan bentuk kodenya. Perbedaan keduanya ada pada pencocokan pembayaran: kode statis menerima banyak pembayaran tanpa membawa identitas pesanan, sedangkan kode dinamis dibuat untuk satu transaksi. Yang menjadi lebih mahal pada kode statis adalah waktu untuk mencocokkan, bukan MDR-nya.
Apakah tarif 0 persen berlaku juga untuk Virtual Account?
Tidak. Ketentuan MDR QRIS hanya mengatur QRIS. Virtual Account umumnya dikenai biaya tetap per transaksi, dan besarnya ditentukan penyedia masing-masing.
Kalau ada yang mengaku bisa QRIS 0 persen tanpa syarat, apakah masuk akal?
MDR 0 persen memang nyata untuk nominal dan kategori tertentu, tetapi biaya penyedia di atasnya tetap ada, begitu juga biaya pencairan. Klaim “gratis” layak dicek dengan satu pertanyaan: berapa yang masuk ke rekening untuk pembayaran Rp 50.000, dan berapa untuk mencairkannya. Di Kasera Pay, jawabannya Rp 49.400 per pembayaran Rp 50.000 dan Rp 3.000 per pencairan. Contoh klaim seperti itu yang dibaca baris per baris ada di perbandingan Kasera Pay dan KlikQRIS.
Untuk gambaran biaya pada skala kecil dan perorangan, termasuk pengaruh jadwal pencairan terhadap penghasilan bersih, ada di panduan payment gateway tanpa PT. Untuk memastikan setiap pembayaran QRIS terkonfirmasi tanpa cek mutasi manual, ada di cara tahu pembayaran QRIS sudah masuk.